Tuesday, 26 August 2014 17:23

Kekayaan Minyak dan Gas Indonesia di Bawah Laut Masih Sangat Besar

Jakarta - Pengamat energi, Iskandar, mengatakan kekayaan minyak Indonesia diperkirakan mencapai 40,1 miliar barel dan gas bumi 217,7 triliun kaki kubik yang berada di bawah laut. Namun hingga saat ini, yang diperoleh Indonesia dari pemanfaatannya hanyalah sekitar 15 persen saja.

Untuk itu, dia mendorong pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla, kalau memang berniat mengembangkan potensi maritim, untuk memastikan negara dan rakyat mendapatkan porsi besar.

"Kalau kita kaya di laut, apa mau dibiarkan seperti di darat? Semua bilang di darat pembagian untuk kita itu kecil," kata Iskandar dalam Sarasehan Kebangsaan I bertajuk "Strategi Pemanfaatan Energi dan Sumber Daya Mineral di Kawasan Perairan" yang digelar Pusaka Trisakti dan Lembang 9 Institut, di Jakarta, Selasa (26/8).

Menurut Iskandar, potensi sumber daya minyak dan gas bumi Indonesia masih cukup besar untuk dikembangkan di daerah-daerah terpencil, laut dalam, sumur-sumur tua, dan daerah kawasan Indonesia Timur.

"Hanya saja, selama ini, pemanfaatannya tak bisa dimaksimalkan. Indonesia kalah oleh negara seperti Malaysia yang lebih menarik bagi investor," kata Iskandar. "Di negeri itu, investor dilayani dengan lebih baik. Di Malaysia, investor sudah diberikan data lokasi dan berapa potensi energi yang ada," dia menambahkan.

"Sehingga, pemerintah Malaysia punya daya tawar untuk meletakkan berapa proporsi untuk negara tersebut. Selama ini di Indonesia, mereka dikasih peta buta," kata Iskandar.

Tak heran, walau di 1967 dan 1995 Indonesia bisa mencapai lifting minyak hingga 1,6 juta barel, kini hanya sekitar 800 ribuan barel. Penurunan produksi dipadu dengan konsumsi serta ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM) telah membuat masyarakat antre BBM bersubsidi.

Ke depan, selain memperbaiki tata produksi migas dengan menaikkan produksi, menurut Iskandar, perlu menjawab tantangan dalam pemanfaatan energi non-konvensional. Menurutnya, tantangan terbesarnya adalah mengubah kebiasaan selama ini yang terbiasa dengan subsidi.

"Subsidi meningkat setiap tahun. Penyakitnya di akhir tahun selalu terjadi gejolak persoalan subsidi," kata Iskandar.

 

dikutip dari beritasatu.com

Read 469 times

Media News

  • Most Popular
  • Latest
Top