Tuesday, 02 September 2014 17:15

Ekonomi Berdikari Jokowi-JK Akan Dorong Produksi Nasional

Jakarta - Ekonomi Berdiri di Atas Kaki Sendiri (Berdikari) yang akan dijalankan Pemerintahan Jokowi-JK dipercaya akan menata kembali kekuatan Indonesia sebagai negara berproduksi yang memiliki posisi perdagangan yang seimbang dengan pihak asing, baik negara maupun perusahaan.

 

Tim Ahli Jokowi-JK, Andrinof Chaniago, tak menolak bahwa hal itu sejalan dengan yang disampaikan Bung Karno dalam pidato Nawaksara-nya. Bahwa Berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerja sama internasional. Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-derajat dan saling menguntungkan.

"Intinya memang seperti yang dikatakan Bung Karno. Kita berproduksi supaya ada surplus, sehingga perdagangan harus adil dan seimbang. Ada produk yang kita perlukan bisa dibeli, ada produk kita sendiri akan dibeli orang lain," kata Andrinof di Jakarta, Senin (1/9).

Selama ini yang terjadi, sangat ada ketidakseimbangan. Impor Indonesia sangat beragam dan makin besar, di mana negara "semacam dipaksa" untuk terus melakukan impor.

"Pelan-pelan kita dijerat oleh impor tanpa bisa memproduksi sendiri," imbuh dia.

Hal itu tentunya mensyaratkan bahwa sumber daya alam nasional harus dikelola sendiri oleh negara dan rakyatnya. Namun adalah fakta bahwa sumber daya itu sudah kadung "dikontrak" pihak asing melalui perjanjian-perjanjian.

Untuk hal itu, lanjut Andrinof, maka kontrak-kontrak karya akan tetap dihormati dan tak mungkin langsung diputus. Itu artinya pemerintahan ke depan tetap menghormati hukum. Konsep yang akan digunakan adalah renegosiasi kalau memang mendesak dilakukan perubahan.

"Maka langkah pertama nantinya adalah mengaudit perjanjian kerjasama internasional dan kontrak-kontrak untuk tahu mana yang lemah dan mana yang harus diperbaiki," ujar Andrinof.

Ujungnya, ekonomi Berdikari akan berusaha meningkatkan leverage Indonesia di dalam persaingan global di bidang apapun. Kuncinya, kata Andrinof, kalau produksi nasional meningkat dan perdagangan seimbang, maka Indonesia akan punya posisi tawar.

"Ujungnya negara punya neraca dan devisa yang kuat. Di dunia internasional, posisi kita dilihat dari berapa besar devisa, bagaimana nilai mata uang, dan lain-lain. Kalau itu saja ditentukan kekuatan luar, kita tak mandiri. Maka itu yang akan diperkuat ke depan," jelasnya.

"Kita tingkatkan ekspor dan kurangi utang negara, itu wajib. Penerimaan pajak dan ekspor harus ditingkatkan. Ketika kondisi di dalam negeri bagus, maka posisi kita di luar juga akan ikut bagus. Kalau tak mandiri ekonomi, semua tujuan baik itu tak berjalan," ungkapnya.

 

Sumber: Beritasatu

Read 344 times

Media News

  • Most Popular
  • Latest
Top