Friday, 29 August 2014 22:13

4X4 HERITAGE COMPARISON – Toyota FJ Cruiser vs TLC FJ-40

4X4 HERITAGE COMPARISON – Toyota FJ Cruiser vs TLC FJ-40


Mempertemukan kakek buyut dan cicit dalam duel melewati lorong waktu. Kami melakukannya sambil bernostalgia....
Teks: Yusran Hakim 
Foto: Edi Weente
 
 
 
KELAHIRAN Toyota FJ Cruiser memang menghebohkan sejak awal, tepatnya pada tahun 2005, saat versi produksi FJ Cruiser concept -- diperkenalkan pertama kali di Chicago Auto Show 2003 -- disetujui dan langsung debut di North American International Auto Show (NAIAS) 2005. Para pecinta jip di seluruh dunia dibuat terkesima lewat tampilan unik FJ Cruiser, dengan desain retro-style yang langsung mengingatkan akan sosok sang ‘pewaris’, Toyota Land Cruiser (TLC) FJ40 original kelahiran 1960.
Tak diragukan betapa Toyota Motor Company memberikan perlakuan spesial dalam mendesain FJ Cruiser,demi menghidupkan kembali ruh TLC FJ40, sang pewaris. Toyota habis-habisan menguras seluruh energinya untuk menciptakan SUV retro-style ini agar tak hanya terlihat mirip tapi juga memiliki kemampuan dan ketangguhan yang sama dengan sang pewaris. Prototipe yang sudah diperkenalkan tersebut bahkan diuji di berbagai medan berat seperti di gurun Mojave, Angeles National Forest, Moab di utah dan Rubicon Trail yang terkenal. Toyota seperti ingin menegaskan, sejak awal konsep, FJ Cruiser jelas bukanlah sebuah SUV ‘banci’. Inilah satu-satunya SUV Toyota dengan gaya yang membuat para pemilik FJ40 terlihat seperti baru saja melewati lorong waktu ke masa depan.
Tapi benarkah FJ Cruiser memiliki kapabilitas setara sang pewaris? Pertanyaan inilah yang kemudian menginspirasi kami untuk sedikit berbuat ‘nyeleneh’, membandingkan keduanya lewat serangkaian test drive on-roaddan off-road. Maka, kami menggelandang sebuah FJ Cruiser model 2012 bertransmisi otomatis dengan penggerak 4-roda part-time dan mempertemukannya dengan sang pewaris, sebuah TLC FJ40 lansiran 1970 dengan mesin seri F 3,9 liter 6-silinder segaris. Melesat di jalur tol, berkutat dalam situasi crowded lalulintas Jakarta yang menjengkelkan, hingga medan off-road di kawasan Serpong. Tentu, ini bukan komparasi ‘aple-to-aple’ dua produk dari brand yang sama. Kami hanya penasaran untuk memastikan apakah kata “pantas” memang berhak disandang oleh FJ Cruiser atas ‘legenda’ FJ40. Selebihnya, sebut saja...kami sedang bernostalgia.
 
 
***
 
 
TOYOTA Land Cruiser (TLC) FJ40. Pecinta 4x4 mana yang tak mengenalnya? Populer di Indonesia pada era 1970-an – meski telah beredar sejak 1960-an – berkat ketangguhan dan durabilitas “badak-nya” di medan off-road dan. Kelegendarisan TLC FJ40 -- di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “Toyota Hardtop” -- setara dengan Land Rover dan Jeep CJ7 atau Wrangler.
Oke, sekarang masuki lorong waktu yang sama, mundur hampir 60 tahun silam. Pertama kali diproduksi tahun 1954, Rando Kuruza -- begitu orang Jepang menyebutnya -- terinspirasi oleh Bantam MKII, sebuah kendaraan pengangkut multiguna yang digunakan pasukan Jepang saat menginvasi Filipina tahun 1941. Pemerintah Jepang kemudian memerintahkan Toyota untuk membangun sebuah kendaraan multiguna yang tangguh namun dengan perawatan mudah. Maka, pada tahun 1942 terciptalah Toyota AK10 dengan mesin 2.259 cc 4-silinder, bertransmisi manual 3-speed dan sistem penggerak 4WD 2-speed: inilah cikal bakal lahirnya Toyota Land Cruiser. 
Nama Land Cruiser sendiri baru digunakan tahun 1954 pada Toyota BJ Series hasil pengembangan lanjutan dari AK10. Melalui pengembangan BJ Series Toyota memperkenalkan salah satu mesin tertangguh, F Series berkapasitas 3.9-liter 6-silinder dengan bahan bakar bensin. Selain itu Toyota juga mengembangkan sistem per daun yang lebih tipis namun lebih kuat dan menambah kenyamanan. Sistem ini yang kelak digunakan di Toyota Land Cruiser FJ Series, membuatnya tak lagi sekadar kendaraan multifungsi melainkan juga sebagai kendaraan pengangkut penumpang karena kapasitasnya besar. Saat paling bersejarah terjadi pada tahun 1960, ketika Toyota memperkenalkan Land Cruiser 40 Series yang lebih dikenal sebagai FJ40. Bermodalkan mesin F Series 3.9-liter, desain kekar abadi, dan ditopang struktur chassis baja yang lentur, delapan tahun sejak pertama kali diperkenalkan FJ 40 mampu terjual hingga 300.000 unit di seluruh dunia. Tahun 2007, 23 tahun kemudian, Toyota FJ40 series kembali dalam bentuk reinkarnasi FJ Cruiser..
Meski tak sedikit yang menyebut tampilan luar FJ Cruiser aneh ketimbang unik, faktanya Toyota berhasil menjadikannya sebagai ‘reinkarnasi’ FJ40 klasik lewat satu pandangan mata. Anda, atau siapapun yang pernah mengenal FJ40, akan langsung mengenalinya dari paras wajah yang sama. “Terutama dari depan... dua lampu bulat yang dikelilingi gril elips berkelir putih di atas honeycomb hitam dengan logo besar ‘Toyota’ klasik tepat di tengahnya. Juga atap putih yang menjadi ciri khas TLC FJ40,” ujar Odi -- panggilan akrab Anindiyo Pradhono, rekan jurnalis Motor Trend Indonesia yang bertugas memiloti FJ Cruiser sepanjang komparasi. “Windshield tegaknya juga...meski pilar A-nya terlalu tebal, berlebihan dan aneh,” sergah Yusran Hakim dari balik kemudi FJ40 klasik berkelir biru langit. 
 
 
Secara keseluruhan, kami sepakat tampilan luar FJ Cruiser terasa spartan layaknya TLC FJ40. Namun jika disimak lebih detail sebetulnya desain keseluruhan FJ Cruiser cenderung futuristik, terutama lewat garis-garis body yang mengotak seperti mobil jip masa depan. Dari samping hingga belakang, Anda akan menyaksikan desain yang seperti datang dari masa depan. “Seperti masih mobil konsep. Saya suka... terlihat keren saat berada di jalanan, tapi terlalu manis di tengah medan ekstrem,” papar Odi. “Akh, terlalu modern malah...kesannya justru seperti sebuah ‘fashion’ SUV,” sergah Yusran.  
Desain eksterior yang jauh dari kata konservatif, cenderung ‘nyeleneh’ malah,  bagaimanapun membawa konsekuensi lain:kurang ideal dalam penggunaan harian. Soal visibilitas misalnya, agak terganggu oleh tebalnya pilar-pilar dan posisi jendela yang agak janggal. Karena tidak menggunakan pilar B sebagai penopang sisi samping-tengah, FJ Cruiser menggunakan rangka penopang atap dari material baja tebal berkekuatan tinggi sebagai side impact protection.  Saat duduk di kokpit, Anda akan menjadi setengah buta oleh banyaknya blind spot yang tercipta akibat rancang desainnya yang ‘nyeleneh’. “Tapi saya suka driving position-nya...cukup ideal buat postur saya yang jangkung, karena tidak terlalu ‘commanding’ dan tegak,” ujar Odi. 
Pintu berdesain 'suicide' yang memberi akses lega
Interior tetap terlihat spartan, khas 'off-roader' sejati
Tampilan spartan tetap terbawa ke dalam interior, bahkan kabin SUV ini lebih menyiratkan jip tulen dibanding eksteriornya. Simpel, tanpa basa-basi, tidak terendus bau kemewahan, tidak banyak tombol aneh-aneh dan didominasi plastik keras di sekujurdashboard hingga lantai. Seluruh jok dilapisi dengan material anti-air yang mengindikasikan FJ Cruiser siap bermain lumpur. Seperti milik FJ40, shifter transfer case FJ Cruiser juga berbentuk tuas dengan desain “jadoel” dan ditempatkan di lantai, berdampingan dengan tuas transmisi – sementara sebagian besar ‘off-roader’ lain telah mengadopsi shifter model tombol. Di area depan dashboardjuga terdapat tombol kontrol traksi, sistem A-TRAC, plus pengunci differential belakang. Bagian paling mencolok tentu beberapa area berwarna sama dengan cat bodi luar. 
 
 
Suspensi FJ Cruiser jauh lebih nyaman
Kami memuji kualitas pengendaraan FJ Cruiser yang unik. Di jalan raya, FJ Cruiser mampu melesat dengan nyaman. Suspensi model independen double wishbone dan stabilizer bar di depan, plus live axledi belakang dengan setingan four-link bertravel panjang sepertinya diseting extra-soft. Terasa lembut sekali untuk sebuah jip penggerus tanah. Suspensinya bahkanjauh lebih empuk dibanding Fortuner ataupun D-cab Hilux. Tubuh akan terombang-ambing seperti naik perahu yang tersapu ombak. Bahkan saat pengereman, moncong dan buritan ikut terayun. Suspensinya ‘mental’ ketika roda menerima tumbukan, misalnya mengahajar lubang di jalan. Tapi semakin keras Anda melibasnya, suspensi mampu memberikan kenyamanan lebih baik. Gejala body roll tetap terasa ketika melibas tikungan dalam kecepatan sedang, namun dalam batas yang amat wajar. Bayangkan, ini adalah SUV berbobot nyaris dua ton dengan body lebar dan ground clearance tinggi. Kami sepakat, secara keseluruhan pengendaraannya di jalan raya tergolong stabil dan nyaman.
 
O ya, Sistem pengereman FJ Cruiser menganut model cakram ventilasi dengan 4-piston di depan dan cakram solid 2-piston di belakang, ditambah sistem pengaman Anti-lock Braking System (ABS), Electronic Brake-Force (EBD), Brake Assist (BA), Vehicle Stability Control (VSC) dan A-TRAC spesialis dalam mengatur traksi. Toyota FJ40? “Hupff... no comment!”
 
Ride and handling FJ40 cukup 'mengerikan' di jalan raya
 Jauh berbeda dengan sang pewaris, TLC FJ40 yang masih mengandalkan suspensi model semi-elliptical dengan 7 lembar per daun  (leaf springs) di bagian depan dan 6 lembar di bagian belakang. Dikombinasi dengan shock absorber tipe double acting hydraulic telescopic di depan dan belakang, pengendaraan Toyota FJ40 di jalan aspal sungguh ‘mengerikan’. Jika Anda sama sekali belum pernah mengendarainya, cobalah bayangkan ini: pelat besi beroda yang ditumpangkan di atas chassis ladder seukuran rel kereta api, jangkung, boxy, berat, dan mengandalkan per daun! Hey, ini...truk, jadi Anda harus meng-handle jip ini layaknya sebuah truk.
FJ40 masih mengandalkan rem tromol di keempat rodanya
Chassis 'badak' dengan suspensi  per daun yang keras
Roda kemudi tipe semi-reversible and sector roller dengan rasio 21 : 1 yang diadopsinya seperti tak pernah mau memberi kesempatan tangan Anda berhenti sejenak dari upaya mengoreksi arah roda. Bahkan di atas permukaan jalan aspal halus dan datar sekalipun. ‘Speling’ di mana-mana, menunjukkan nyaris semua komponen yang terkait telah aus sejak lama. “Rodanya baru bisa belok jika setir diputar 180 derajat...hahaha,” komentar Yusran setengah bercanda. Jip Toyota dari ‘abad pertengahan’ ini juga melesat di setiap tikungan tajam dengan seabrek understeer yang mengiringinya namun tanpa gejala ‘body roll’ sama sekali. “Body roll...? Body roll apa? Yang ada hanya gejala nyaris ‘tumpah’ setiap kali saya masuk dan keluar tikungan kok...hehehe.” 
Seperti truk jip tua umumnya, TLC FJ40 yang kami uji ini tak seberuntung saudara mudanya (lansiran 1975 – 1983) yang telah mengadopsi perangkat rem model cakram di bagian depan. Yang satu ini hanya dibekali rem model tromol (drum) hydraulic berdiameter 11,4 inci di keempat rodanya. Dan, sepertinya nasib saya tak terlalu buruk, karena perangkat penghenti laju ini masih bekerja cukup baik meski butuh perjuangan keras untuk mengoperasikannya. Kaku, kasar, dan berat. Nyaris tak ada kenyamanan berkendara yang ditawarkan FJ40 di jalan raya, membuat Anda akan memohon bisa secepatnya kembali ke abad 21.
 
Tinggalkan perspektif bahwa FJ Cruiser adalah keturunan langsung sang legenda FJ40. Karena tidak ada pertalian darah langsung antara sang kakek dengan sang cucu. Meski sama-sama ditopang chassis ladder-frame dengan mesin dan suspensi ‘badak’, semua ‘jeroan’ tersebut sama sekali bukan berasal dari TLC FJ-Series melainkan berbagi dengan SUV Toyota 4Runner (Hilux Surf) dan struktur chassis body on frame yang dicomot dari 4Runner – juga TLC Prado.
Mesin V6 Dual VVT-i 
Tidak hanya berbasis 4Runner, tapi juga mengandalkan mesin 1GR-VE 4.0-liter V6 Dual VVT-i berbahan bakar bensin, transmisi otomatis 5-speed, rem cakram hingga differential milik 4Runner dan Tacoma. Output tenaga 260 hp pada 5.600 rpm dan torsi 368 Nm pada 4.400 rpm terasa enteng untuk menghela bobot 1.948 kg. Tarikan awal cukup menghentak (akselerasi 0-100 km/jam diklaim dalam 10,1 detik), karena rasio gear pertama yang cukup besar (3.520:1). Sedangkan kombinasi rasio gearkedua yang turun drastis (2.042:1) dengan rasio gigi akhir (final drive ratio) 3,727 : 1 membuat tenaga sedikit drop. Tenaga baru terasa buas setelah melewati 2.500 rpm. Raungan mesinnya lumayan merasuk ke dalam kabin. Mirip suara mesin Toyota Kijang saat terdengar suara pusaran udara yang terhisap menuju intake tiap kali pedal gas diinjak. “Mesin yang memuaskan, lebih dari cukup dikendarai di dalam kota dan dengan mudah meluncur cepat di jalan tol,” kata Odi. 
 
 
Mesin tua 6-silinder segaris yang legendaris
Toyota FJ40? Jangan berharap akselerasi yang bakal melontarkan punggung Anda ke sandaran kursi, meski sama-sama mengandalkan mesin bensin 6-silinder yang kapasitasnya tak jauh berbeda dengan milik FJ Cruiser. Lebih-lebih, FJ40 yang kami uji ini adalah model lansiran tahun 1970 yang masih mengandalkan mesin seri F berkapasitas 3,9 liter (3.878cc tepatnya) dengan tenaga maksimal hanya 125 hp @ 3.600 rpm dan torsi puncak 283 Nm @ 2.000 rpm. Jelas bukan tandingan mesin FJ Cruiser (260 hp & 368Nm versus 125 hp & 283Nm). Bahkan meski bobot bersih FJ40 jauh lebih ringan ketimbang bobot FJ Cruiser (1.574 kg versus 1.948 kg)tetap saja mesin V6 modern milik FJ Cruiser menghasilkan rasio tenaga dan torsi per kilogram bobot yang lebih bagus ketimbang FJ40. Coba lihat datanya, power-to-weight ratio (rasio tenaga dibanding bobot) FJ Cruiser adalah 260hp/1.948 kg. Ini berarti setiap satu tenaga kuda dari mesinnya hanya butuh untuk menghela sekitar 7,5 kg bobotnya. Bandingkan dengan FJ40 dengan power-to-weight ratio 125hp/1.574 kg, atau untuk setiap tenaga kuda yang dihasilkan mesin harus menanggung 12,6 kg bobotnya. Begitu pula dengan torque-to-weight ratio (rasio torsi dibanding bobot) yang menentukan kemampuan berakselerasi. FJ Cruiser sedikit lebih unggul dengan 368 Nm/1.948 kg atau setiap Newton meter torsinya hanya dibebani 5,3 kg dari bobotnya. Sedangkan FJ40 dengan 283 Nm/1.574 kg, atau setiap Newton meter torsi mesinnya harus menanggung beban 5,6 kg dari bobot keseluruhan.
Transmisi J30 3-speed FJ40
  Lalu, dimana keunggulan mesin FJ40? Aha, jangan lupa, mesin tua 6-silinder segaris di balik bonnet FJ40 adalah ‘legenda’ yang telah puluhan tahun membuktikan keandalannya. Ini adalah mesin ‘langkah panjang’ (101,60 mm, dibanding stroke/langkah mesin FJ Crusier yang hanya 95mm) dengan output daya berkarakter linear yang mampu dituai pada putaran mesin jauh lebih rendah dibanding mesin FJ Cruiser. Nyaris tak pernah kehabisan nafasnya untuk menghela bobot FJ40 (1.574 kg/bobot bersih atau 2.041 kg/bobot kotor) pada jarak panjang, bahkan di medan terberat sekalipun.
  Transmisi J30 3-speed dengan transfer case 2-speed model one-piece milik FJ40 juga memiliki karakter unik. Meski hanya 3-speed dengan gear 1 dan reverse tak dibekali syncromesh, kombinasi rasio antargear -- 1st (2,76), 2nd (1,70), 3rd (1.00) -- dengan rasio gigi akhir di gardan yang cukup kasar (4,111 : 1) membuat FJ40 tak terlalu memalukan di jalan raya. Jip Toyota ini bahkan mampu melaju hingga 60-70 km/jam dengan gear 1 tanpa harus merontokkan mesinnya. “Halaahh…tetap saja terengah-engah hampir mati ketika mengejar FJ Crusier di jalur tolkan?,” sergah Odi. Saya hanya bisa terdiam, sembari mengingat kembali betapa bergemuruhnya transmisi J30 ini pada putaran mesin tinggi, belum lagi perpindahan antargear-nya yang jauh dari kata ‘halus’. “Oke, kita buktikan siapa yang lebih unggul di habitat aslinya.”
Dan, inilah ajang pembuktian yang sebenarnya: medan off-road! Kami memilih sebuah lokasi off-road di kawasan Serpong, yang memiliki berbagai pilihan ragam obstacle. Aha, tentu saja kami tak memilih obstacle ber-grade ekstrem yang bisa membuat kedua jip Toyota beda generasi ini menjadi potongan-potongan kecil. Kami sepakat hanya menjajal beberapa obstacle ringan untuk menguji travel suspensi, kemampuan crawling, serta traksi roda di medan berlumpur.
Sempat ragu dengan kapabilitas off-road FJ Cruiser, kami malah dibuat kaget dengan hasil akhirnya. Suspensi FJ Cruiser yang lembut justru sangat mantap ketika melibas permukaan jalan tanah yang tidak rata pada kecepatan sedang. Peredamanannya lentur, tidak menghasilkan banyak getaran di dalam kabin. Travel suspensinya juga cukup panjang dan lentur untuk melewati gundukan besar. Bodi bongsor FJ Cruiser relatif tetap rata meski kedua gardan telah bermain cukup jauh mengikuti kontur jalan. Apalagi FJ Cruiser diuntungkan oleh ground clearance setinggi 244 mm, jauh lebih tinggi daripada milik FJ40 yang hanya 211 mm. Disinilah letak keuntungan setelan suspensi empuk tadi, karena dapat memberikan manuver dinamis. “Nyaman sekali, seolah baru saja melewati sebuah ‘polisi tidur’ kecil,” puji Odi setelah sukses melewati sebuah cerukan kecil sedalam setengah meter lalu merayapi gundukan setinggi setengah meter lagi tepat di depannya.
 
Tapi saat Anda off-roading, urusan pengendaraan menjadi tidak penting kan? Siapa yang butuh kenyamanan jika suspensi jip Anda gampang rontok di medan off-road. Dan inilah jawaban FJ40 atas FJ Cruiser. Dengan paket per daun setebal itu di depan dan belakang, pengendaraan FJ40 jelas jauh dari nyaman. Tapi, setidaknya Anda yakin komponen kaki-kaki tersebut tak bakal rontok ketika menghajar gundukan atau bebatuan tajam. Bahkan hanya bermodal ban Good Year X-Grip ukuran 7.50 – 15 yang kondisinya setengah botak, FJ40 masih mampu mengalahkan FJ Cruiser yang dibekali ban 265/70 R17 di obstacle gundukan bergradasi setengah hingga satu meter. Ground clearance boleh kalah tinggi, tapi travel suspensinya yang lebih panjang membuat truk Jepang legendaris ini tak sekalipun ‘nyangkut’ di gundukan dan cerukan dalam. “Masabodo dengan bunyi berderak-derak suspensi tuanya, saya percaya 100 persen tak bakal patah atau rontok,” timpal Yusran Hakim dengan wajah cengengesan.
 
Begitu pula saat menjajal kemamuan crawling kedua jipToyota ini di tanjakan dan turunan curam. Keduanya sama-sama tangguh, mampu menaklukkan obstacle lewat karakter crawlingyang berbeda. Di atas kertas, nyaris semua data kapabilitas off-road memenangkan FJ Cruiser atas FJ40. Transfer case 2-speed-nya dibekali low gear dengan rasio yang lebih kasar ketimbang FJ40 (2,57 versus 2,31). Begitu pula dengan gear 1 yang rasionya lebih kasar (3,52 versus 2,75), walaupun rasio gigi akhirnya (final gear ratio) kalah besar dibanding milik FJ40 (3,73 versus 4,11). Semua angka-angka itu memperlihatkan FJ Cruiser memiliki angka rasio crawling di atas FJ40 (33,7 :1 versus 26,2 : 1). Atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, ini berarti FJ Cruiser mampu merayap di tanjakan lebih baik ketimbang FJ40. Benarkah? Di medan off-road, hasilnya ternyata tak seperti yang kami bayangkan. Karakter mesin V6 FJ Cruiser yang baru ‘galak‘ di putaran tinggi membawa konsekuensi perolehan torsi puncaknya diperoleh pada putaran mesin jauh lebih tinggi dibanding mesin FJ40 (2.000 rpm versus 4.400 rpm). Ini berarti Anda harus menjaga putaran mesin tetap di atas 2.500 rpm agar FJ Cruiser mampu merayap naik. Sedangkan FJ40 mampu menaklukkan tanjakan yang sama hanya dengan sedikit sentuhan ringan di pedal gas, yang membuat mesinnya berputar tak lebih dari 1.500 kali per menit.
 
 

Meski sama-sama mengandalkan sistem penggerak 4-roda (4WD) model part-time dengan transfer-case dua-kecepatan (4H dan 4L), tentu saja ada perbedaan besar dalam teknologi kedua jip Toyota yang terpisah nyaris 60 tahun ini. Tak seperti FJ40 yang sangat kuno, sistem 4WD FJ Cruiser disokong sederet fitur canggih yang meningkatkan kemampuan off-roadnya. Sebut saja Active traction control (A-TRC), Electronic Brake-force Distribution (EBD), Vehicle Stability Control (VSC), serta pengunci diferensial belakang (rear differential locker) yang membuat jip retro-style ini tetap mampu bergerak meski hanya dengan satu roda saja ketika melintasi berbagai obstacle, seperti permukaan jalan bergradasi atau dalam kubangan lumpur, yang bisa membuat nyaris seluruh roda kehilangan traksinya. Seperti sang pewarisnya, FJ Cruiser juga didesain untuk mampu melintasi air dengan kedalaman hingga di atas roda. Ini berkat air intake yang ditempatkan di atas fender kanan, sehingga jika seluruh roda terendam pun, air intake tetap bebas dari lumpur dan air. Termasuk pula kapasitas towing yang mampu menarik beban hingga 2.250 kg, jauh di atas kemampuan towing FJ40 yang hanya 1.361 kg.
 

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: cukup pantaskah FJ Cruiser mewarisi ‘legenda’ FJ40? Ya, tak perlu basa-basi...kami sepakat. FJ Cruiser memiliki nyaris semua kemampuan yang ada padaTLC FJ40, dan bukan sebaliknya, kecuali satu hal: legenda itu sendiri! Kami percaya, Anda bahkan sudah tahu jawabannya sejak awal. 


 


  
 
 
Toyota FJ Cruiser
Toyota Land Cruiser FJ40
HARGA
Rp. 930 juta
                      n.a    
MESIN
 
 
TIPE
V6, 24-katup DOHC, Dual VVT-i
6-inline 4-cycle OHV
KAPASITAS
3.956 cc
3.878cc
TENAGA MAKS. 
260 hp @ 5.600 rpm
125 hp @ 3.600 rpm
TORSI MAKS.
368 Nm @ 4.400 rpm
283 Nm @ 2.000 rpm
BORE x STROKE (mm)
94 x 95 mm
89,92 x 101,60 mm
TRANSMISI
 
 
 
TIPE
Otomatis 5-speed ECT
Manual, 3-speed
GEAR RATIO 1st
3.520
2.757
GEAR RATIO 2nd
2.042
1.700
GEAR RATIO 3rd
1.400
1.000
GEAR RATIO 4th
1.000
   -
GEAR RATIO 5th
0.716
   -
GEAR RATIO 6th
    -
   -
GEAR RATIO REVERSE
3.224
3.676
 
 
 
FINAL DRIVE RATIO/ DIFFERENTIAL RATIO
3.727
4.111
TRANSFER CASE - HIGH
1.000
1.000
TRANSFER CASE - LOW
2.566
2.313
DIMENSI
 
 
P x L x T
4.671 x 1.905 x 1.829 mm
3.871 x 1.666 x 1.951 mm
WHEELBASE
2.690 mm
2.286 mm
GROUND CLEARANCE
244 mm
211 mm
TRACK DPN/BLKG
1.605/1.605 mm
1.404/1.400 mm
APPROACH/DEPARTURE ANGLE
34/31 derajat
 n.a
TRAVEL SUSPENSI DPN/BLKG
203.2/228.6 mm
 n.a
BOBOT KOSONG
1.948 kg
1.574 kg
KAPASITAS TANGKI
72 liter
70 liter
BAN
265/70 R17
750 - R15
SUSPENSI DAN REM
 
 
SUSPENSI DEPAN
Double Wishbone & stabilizer bar
Per daun 7-lembar semi-elliptical
 
SUSPENSI BELAKANG
4-link with lateral rod, coil spring & stabilizer bar
Per daun 6-lembar semi-elliptical
 
REM DEPAN
Cakram ventilasi
Tromol hidrolik diameter 1,4 inci
REM BELAKANG
Cakram
Tromol hidrolik diameter 1,4 inci

    






Read 5835 times

Media News

  • Most Popular
  • Latest
Top