Friday, 29 August 2014 21:57

Toyota Land Cruiser BJ44 LX 1983 (JDM)

4X4 RESTORASI - Toyota Land Cruiser BJ44 LX 1983 (JDM)

Toyota Land Cruiser BJ44 LX 1983 (JDM)

Toyota 'Hardtop' versi Medium Wheelbase yang sempat menghebohkan kolektor diJakarta pertengahan tahun 1990-an. Ternyata, peninggalan mantan presiden Soeharto.
 
Teks: Parikesit, Yusran Hakim                               Foto: Iman Firman
 

TOYOTA Land Cruiser BJ44? Aha, kecuali bagi para ‘TLC enthusiast’, model BJ44 sepertinya memang kurang familiar dibanding BJ40 alias Toyota “Hardtop” Land Cruiser seri 40 bermesin diesel. Apalagi jika dibandingkan dengan TLC FJ40 yang sangat legendaris. Tak banyak yang mengetahui keberadaan BJ44 di Indonesia, karena “Toyota Hardtop” ber-wheelbase menengah (medium) ini memang tidak dipasarkan di negeri ini. Tak heran jika kemunculan sosok BJ44 di ajang pameran mobil klasik OICCS pada pertengahan Desember 2011 lalu sempat membuat heboh. Apalagi kondisinya kala itu seperti mobil baru, betul-betul ‘gres’. 
 
 Oke, sedikit flashback tentang TLC BJ44. Banyak sekali informasi, referensi, atau apa saja tentang TLC seri 40 yang ber-wheelbase pendek (short wheel base/SWB) seperti FJ40, BJ40, dan bahkan BJ42. Juga mengenai segala hal yang menyangkut TLC seri 40 versi ber-wheelbase panjang (long wheel base/LWB) seperti FJ45, BJ45, dan HJ47 alias “Troopie” . Anda dengan gampang bisa menemukannya. Tapi banyak yang belum pernah mendengar tentang Land Cruiser seri 40 versi medium wheelbase (MWB), seperti FJ43, BJ43, BJ44, dan BJ46. Bahkan sebagian orang malah tak percaya bahwa versi MWB itu ada. Tak heran, karena umumnya mereka memang belum pernah melihat langsung sosok seri 40 MWB yang merupakan varian paling langka dalam line-up Toyota Land Cruiser. Sebagian besar TLC seri 40 varian MWB -- terutama BJ44 -- yang tersisa dapat ditemukan di Jepang, karena sejak awal varian ini memang hanya dibuat khusus untuk pasar domestik Jepang (Japan Domestic Market/JDM).
TLC BJ44 pertama kali dilansir tahun 1979, menggantikan BJ43, dan hanya disediakan untuk pasar Jepang. Kendati begittu,secara sporadis dan amat terbatas Toyota juga menyediakan pesanan BJ44 untuk negara-negara seperti Rusia, Australia dan Selandia Baru. Versi pertama BJ44 ini masih beratap kanvas, namun pada tahun 1980 Toyota juga meluncurkan BJ44 juga versi V yang beratap hardtop. BJ44 dan BJ44 V dilengkapi mesin tipe 2B berkapasitas 3.168cc dengan transmisi manual 4-speed H41. Pada tahun 1982, BJ44 terakhir sudah mengusung mesin tipe 3B dan transmisi manual 4-speed. Mesin 3B ini juga telah dielngkapi  sistem “superglow” untuk mempercepat proses menyalakan mesin.
 

 
Nah, jika salah satu BJ44 – konon hanya ada dua unit BJ44 di Indonesia, satu di antaranya disebut-sebut ada di daerah Sumatera -- bisa nongol di Indonesia, ceritanya memang cukup panjang. Yang pasti, adalah Michael Done, kolektor mobil klasik asal Jakarta yang kini memiliki varian TLC seri 40 paling langka tersebut. Sejarah kepemilikan ‘Toyota Hardop’ chassis medium ini berawal dari informasi yang diperoleh Michael Done tentang keberadaan TLC BJ44 di salah satu gudang pemintalan benang di kota Surabaya. Itu beberapa tahun lampau. Berbekal informasi awal tersebut, Michael Done pun mulai mendekati pemilik BJ44 tersebut yang mengaku telah memilikinya sejak tahun 2009.
Toyota Land Cruiser memang sudah tidak asing bagi Michael yang dikenal juga pecinta jip Jepang. Sebelum memiliki BJ44, ia telah mengoleksi empat unit Toyota FJ25 (buatan tahun 1957, 1958, 1959 hingga 1960). Makanya Michael meerasa seperti ‘setengah gila’ ketika megetahui keberadaan TLC BJ44 di tanah air. Ia tahu persis, jika terdengar lebih dulu oleh kolektor lain maka kemungkinan besar ia bakal kehilangan kesempatan memilikinya. “Jip Hardtop ini pernah jadi rebutan para kolektor ketika dibawa ke Jakarta pada tahun 1995, namun si pemilik belum berniat menjualnya kala itu,” terang Michael. 
 
Orisinal JDM
 Toyota BJ44 ini sendiri sudah sejak tahun 1992 dipegang oleh pemilik ketiga (sekarang Michael menjadi pemilik ke empat). Sebelum diboyongnya dengan harga sekitar Rp 625 juta pada Oktober tahun 2010, kondisi Land Cruiser BJ44 itu secara mekanis masih bagus dan orisinal, hanya eksteriornya berselimutkan debu dan warna catnya sedikit kusam. Jarak tempuh pun amat sedikit, hanya 24.587 km. “Begitu mesin hidup, suaranya sangat halus, benar-benar seperti mesin yang masih baru,” ungkap Michael.

Tentu, bukan langkah mudah bagi Michael untuk memperoleh BJ44 ini. Selain melalui pendekatan personal berkali-kali, Michael Done juga menggunakan ‘strategi’ khusus untuk memperoleh BJ44 impiannya itu. Pasalnya, si pemilik jip Toyotalangka itu awalnya memang tidak berniat menjualnya. Caranya, ia ‘berkorban’ lebih dulu dengan cara membeli empat mobil klasik dari si pemilik BJ44. “Waktu itu saya coba membuka ‘pintu’ dengan cara membeli empat mobil klasik koleksi si pemilik BJ44, yaitu Mercedes-Benz 250S, Toyota FJ45 lansiran 1964, Fiat 600 dan Mercedes-Benz 300 SEL. Saya beli keempat mobil klasik ini secara bertahap dalam jangka waktu lima bulan, sembari terus membujuk agar si pemilik mau menjual BJ44-nya,” papar Michael. “Akhirnya, berhasil juga. Si pemilik rela melepas BJ44-nya ke tangan saya, karena ia melihat keseriusan saya tak tanggung-tanggung," tambahnya.
 
Winch PTO orisinal baru
Lalu, apa yang membuat Michael begitu ngotot memburu TLC BJ44 yang satu ini? Ternyata tak cuma karena tergolong collectible items, BJ44 yang kini menjadi koleksinya ini juga merupakan salah satu mobil peninggalan mantan Presiden Soeharto. “Menurut sumber di Astra, jip ini didatangkan langsung dari Jepang sebagai hadiah ulang tahun dari Kedutaan Besar Jepang di Indonesia bagi Presiden Soeharto saat itu,” kisah Michael. 
Alasan lainnya, mobil ini terbilang amat langka dan merupakan versi Medium Wheelbase (MWB) serta spek Jepang. O ya, BJ44 yang satu ini merupakan tipe LX, yaitu tipe yang mengadopsi paket Luxury seperti halnya BJ44V (pertama keluar tahun 1980, hanya untuk pasar Jepang). Bedanya, BJ44V dibekali velg baja berwarna putih serta area bumper,grill dan cover pelat nomor sudah diberi sentuhan chrome dan pengait kap mesin berwarna hitam. Sementara tipe LX dengan velg palang enam berwarna putih, dashboardmewah dengan tachometer dan panel berlapis kulit upholstery berwarna coklat serta jok kulit berwana coklat pada interior model hardtop. Baik BJ44V maupun BJ44 tipe LX telah dibekali pendingin udara (AC), foor mats berwarna cokelat dan konsol tengah sebagai fitur standar. 
 
Usai mendapatkannya, Michael mulai merestorasi BJ44 di workshop Auto Legend yang bermarkas di Jepara, Jawa Tengah. Restorasi yang dilakukan terbilang memakan waktu relatif cepat, hanya enam bulan lebih sedikit. “Saya terus menyokong komponen yang dibutuhkan sehingga proses restorasi pun menjadi cukup cepat,” terang Michael.  Di  Auto Legend, BJ44 ini ditelanjangi. Bodi dilepas hingga menyisakan mesin dan chassis. Selanjutnya mesin dipreteli untuk dibersihkan dan beberapa komponen yang telah aus diganti sesuai aslinya.  “Sebelum mesin dipreteli, saya mengambil foto detil mesin dari setiap sudut, juga komponen mesinnya. Sekitar 120 foto didapat yang kemudian dicetak dan ditempelkan pada papan triplek besar agar ketika pemasangan tetap sesuai dengan posisi aslinya,” terang Michael. “Kabel-kabel hanya saya bersihkan dan masih tertera kodenya yang terlihat dengan jelas,” tambahnya.
Tuas kontrol winch PTO

 
Kolong bagian depan
Satu per satu panel bodi BJ44 dibersihkan. Lis karet kaca tentu ikut pula dilepas. “Beruntunglah kondisi lis kacanya masih bagus sehingga hanya dibersihkan saja,” terang Michael. Baut-baut bodi pun hampir 98 persen masih mengandalkan aslinya karena kondisinya masih sangat baik. Bukan perkara mudah pula untuk mengecat ulang bodinya. Setelah melalui pelbagai proses perbaikan bodi mulai dari dikerok, sunblasting, ampelas dan epoxy, proses pengecatan tidaklah sederhana. Michael harus menjelajah dunia maya untuk mencari cat yang sesuai aslinya.  Kode catnya memang masih tertera di vin number pada mesin. Ia pun akhirnya mendapatkan warna Ribbon Red 309 keluaran Nippon Paint.  Akhirnya, warna merah khas BJ44 ini pun didapat dari racikan perusahaan Nippon Paint di Jakarta. Untuk mendapatkan hasil cat maksimal,  catnya diulang hingga 2-3 kali pengecatan.
Kolong bagian belakang
Beruntunglah interiornya masih orisinal. “Kebetulan mobil ini banyak di dalam gudang, sehingga interiornya masih asli dan hanya perlu dibersihkan saja,” ungkap Michael. Body mounting diganti dengan milik FJ40. “Bentuknya persis seperti punya FJ40 sehingga mudah diperoleh di sini,” terang Michael. Hanya saja karena bodi BJ44 yang lebih panjang maka membutuhkan body mounting lebih banyak. Shock absorber yang sejatinya menggunakan merek Tokico kemudian diganti buatan Old Man Emu.  “Supaya dikendarainya juga nyaman dan mantab,” ujar Michael. Per daun di depan dan belakang tetap aslinya, hanya dicat ulang dan digantibushing-nya dengan bahan Teflon yang lebih kuat.
Kabin depan
Beberapa komponen dan aksesorinya pun ia pesan dari negeri Sakura. Mulai dari saluran pembuang filter udara, radiator, switch dan flasher, lampu kabin, lampu depan, grille dan bumper, kaca spion dan tiang spion, stiker pada bodi dan mesin. Kendala yang ia hadapi hanyalah mencari velg yang sesuai dengan aslinya. “Sebelumnya memakai velg racing dan akhirnya saya ganti dengan velg standar yang diperoleh dari Amerika Serikat. Velg ini sama dengan velg kepunyaan Toyota FJ60. Begitu pula dengan hub roda yang didatangkan langsung dari negeri Paman Sam,” terang Michael.   
 
Jok belakang mewah model BJ44 V
Kini, BJ44 yang fenomenal telah di hadapan mata dengan bentuk nyaris seperti baru. Harganya pun ditaksir melambung jauh lebih tinggi. Keeksotisan dan kelangkaan versi MWB yang satu ini memang berbeda dengan BJ43 dan BJ46. Seperti saya, rasanya para pecinta berat TLC seri 40 akan terus dibayangi mimpi sosok BJ44 tipe LX hasil restorasi Michael Done ini, sembari berharap suatu saat bisa memilikinya.
konsol tengah
  


Bagasi belakang lebih luas
Pedal 'gantung' khas TLC FJ series
 

Floor mats dan karet step penumpang

Spion tongkat orisinal
Kaca samping belakang
Anting per ori baru
 
 
 
 
 
 
 

 




Read 5877 times

Media News

  • Most Popular
  • Latest
Top