Suarahatirakyat, Jakarta – Satu kutipan yang membuat kita tercengang hingga tertawa adalah sebuah tulisan dari Haris Rulis yang merupakan aktivis Petisi 28, seperti dikutip dari teropongsenayan.com(25/07);

"Saat ini DPR RI sudah membentuk Pansus untuk membahas tentang RUU Terorisme dimana Pansus tersebut terdiri dari anggota DPR RI dari Komisi I dan Komisi III. Pembahasan RUU Terorisme sudah di buat rancangan pembahasannya seperti pada terlampir di bawah ini.

Namun berdasarkan informasi yang berkembang dari anggota dewan yang tergabung dalam pansus, bahwa ada agenda terselubung dari lima (5) negara lain yang mempunyai kepentingan terkait terorisme secara global. Negara-negara tersebut antara lain : AS , Australia, Canada, New Zeland dan Inggris.

Malah pihak AS pada kesempatan lain menyampaikan pesan kepada anggota dewan khususnya Komisi I bahwa agar Komisi I nggak usah mengurusi masalah terorisme tapi urus aja masalah alutsista.

Selain itu AS juga mengatakan bahwa intelijen di Indonesia yang baik hanya pihak Polri. Dengan kata lain tidak mengakui kemampuan intelijen lainnya. Rumors lain yang beredar adalah pihak Polri sudah melempar pesan kepada anggota Pansus agar tidak memasuki peran TNI dalam UU tsb.

Bahkan mereka berani deal berapapun kepada anggota Pansus agar TNI tidak ada peran dalam UU tsb. Mereka berani melipat gandakan 10 kali lipat berapapun jika TNI bermain.

Selain itu yang dapat dilihat narasumber yang dijadikan patner anggota Pansus seperti Sidney Jones (izin tinggal sudah habis dan tidak di perpanjang) dan Nasir Abbas merupakan pihak yang memiliki kepentingan dari lima (5) negara tersebut.

Mau dikemanakan negara ini jika hal-hal seperti ini sudah ada agenda kepentingan lain? Bukan melihat dari nasionalisme dan kepentingan kedaulatan bangsa dan negara ini. Apa yang akan kita lakukan jika memang benar rumors tsb ?"

Berdasarkan kutipan tersebut, tentu sangat membuat kita tercengang oleh apa yang menurut sebagian orang merupakan fakta konspirasi dibawah permukaan yang tak semua orang bisa menganalisa dan melihat.

Diketahui, bahwa lima Negara mencoba untuk menghilangkan peran TNI untuk memperlemah pertahanan kedaulatan Negara dengan mengintervensi Rancangan Undang-Undang Terorisme.

Jangan-jangan tim Pansus perancang Undang-Undang Terorisme telah disusupi oleh double agent demi mensukseskan Rancangan Undang-Undang Terorisme. Hal ini sangat mungkin didalam dunia Intelijen untuk melakukan infiltrasi(menempatkan seseorang) demi sebuah kepentingan.

Selain itu, Amerika Serikat mengatakan bahwa intelijen di Indonesia yang baik hanya pihak Polri. Dengan begitu, Amerika serikat tidak mengakui kemampuan intelijen-intelijen dari unsur lain. Apakah demikian?

Dilansir dalam beberapa laman terpercaya, Teroris hari ini bukanlah teroris yang bertindak untuk diri sendiri atau kesadaran moralitas diri, akan tetapi teroris sekarang adalah teroris yang dibiayai/disponsori oleh Negara dan bahkan dibackup full oleh Negara.

Dengan demikian, apakah Polri mampu sendirian menanggulangi bahaya terorisme ? tentunya tidak bisa, contoh dalam kasus Santoso di Poso. Polisi sampai bertahun-tahun menanganinya dan belum selesai, setelah TNI ikut turun tangan dalam sebulan langsung selesai.

Atau jangan-jangan Terorisme adalah proyekan Kepolisian saja? Kita tidak pernah tahu. Yang jelas unsur pertahanan Indonesia sedang diperlemah, karena potensi Indonesia yang bisa mengancam kepentingan asing.

Menghilangkan peran TNI dalam kehidupan benegara di Indonesia sama saja dengan bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dan meluluhlantakan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

[SlametSupriadi]

Published in Hankam

Media News

  • Most Popular
  • Latest
Top